Jumat, 08 Maret 2013

Susu UHT vs SUFOR


Dari jaman dulu sampe sekarang, susu sapi banyak dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Baik yg langsung maupun tidak langsung. Yang dimaksud langsung adalah dikonsumsi langsung setelah diperah dari sumbernya, sedangkan yang dimaksud tidak langsung yaitu melalui proses pengawetan atau pengemasan terlebih dahulu
Secara umum, proses pengemasan susu terbagi menjadi beberapa jenis, tergantung suhu dan pengulangan. Namun yang paling populer adalah susu UHT dan Susu Segar.
Susu segar, dikenal juga dengan istilah susu pasteurisasi, umumnya dijual di bagian rak berpendingin di supermarket. Susu ini memiliki masa kadaluwarsa yang singkat dan harus disimpan di bawah suhu 4 derajat celcius untuk menjaga kesegarannya.
Susu UHT sedikit berbeda. UHT melewati proses tambahan yang memungkinkan untuk disimpan dalam suhu ruangan lebih lama, selama kemasannya tidak dibuka,
UHT itu sendiri merupakan singkatan dari Ultra-High Temperature Processing, atau Ultra-
Heat Treatment yang merupakan proses sterilisasi makanan dengan cara memanaskan dalam waktu yang singkat, biasanya sekitar 1 sampai 2 detik, dalam suhu lebih dari 135 derajat celcius. Suhu ini adalah suhu yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri dalam susu. 
Berbeda dengan UHT, proses pasteurisasi susu lebih lama dengan suhu yang lebih rendah, yaitu menggunakan suhu 72 derajat celcius selama 15 detik.
Susu Formula (SUFOR)
Susu formula berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Proses pengeringan susu bubuk sendiri menurunkan kandungan vitamin yang tidak tahan suhu tinggi, hal ini juga penyebab perlunya penambahan vitamin kedalam susu bubuk.

Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder).
Fakta yang menyedihkan bahwa Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua di dunia yang mengonsumsi susu formula setelah China.

Bagus mana : UHT atau SUFOR ?
Kandungan Gizi
Secara alamiah, bahan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan segar itu lebih baik. Makanan segar masih mengandung unsur “kehidupan” atau yang kita sebut zat gizi yang memiliki banyak manfaat untuk kelangsungan hidup. Zat gizi ini akan semakin berkurang seiring dengan banyaknya proses yang dialami oleh makanan. Zat gizi juga bisa hilang akibat proses pengolahan yang keliru.
Hal ini juga berlaku untuk bahan makanan yang mengalami perubahan bentuk. Susu UHT mengalami proses pengolahan dan perubahan bentuk yang jauh lebih sedikit dibanding susu formula. Proses susu UHT dimulai dari susu yang diperah di peternakan di bawa ke pabrik untuk diproses UHT, dan langsung dimasukkan ke dalam kemasan. Dari yang asalnya cair, tetap dikonsumsi dalam keadaan cair.
Sedangkan susu formula berasal dari susu sapi yang kemudian dikeringkan, umumnya menggunakan spray dryer atau roller dryer untuk kemudian dikemas dan dipasarkan. Selama proses pengolahan ini kerusakan protein, yang terjadi bisa mencapai 30%. Belum lagi kerusakan yang terjadi pada kandungan vitamin dan mineralnya. Belum lagi ketika saat mau mengkonsumsi. Susu formula harus mengalami perubahan bentuk dari padat ke cair.
Anda bisa bayangkan sendiri berapa banyak zat gizi yang hilang selama proses pembuatan sampai dengan siap minum.

Sisi Praktis
Secara penggunaan susu formula lebih merepotkan. Orang tua harus menakar jumlah susu, menyiapkan air panas, dot, dan peralatan lainnya. Belum lagi jika dalam keadaan berpergian, air panas bukanlah barang yang mudah didapatkan.
Pengalaman saya menggunakan susu formula,  takaran yang dibuat jarang sekali pas dengan kebutuhan anak sehingga sering mubazir.
Bandingkan dengan susu UHT yang hanya tinggal tancap sedotan dan langsung minum. Sangat praktis bukan?
Susu UHT juga tersedia dalam kemasan kecil, umumnya 115 – 125 ml yang bisa habis dalam sekali minum sehingga tidak menyisakan kelebihan yang mubazir. Kalaupun tidak habis masih bisa disimpan di lemari pendingin.
Belum lagi gelas dan peralatan kotor yang harus dicuci setelah konsumsi susu formula. Membutuhkan lebih banyak tenaga, air, sabun cuci dan waktu. Bandingkan dengan susu UHT yang hanya tinggal buang setelah dikonsumsi.
Jadi lebih praktis mana?

Ekonomi
Harga susu formula yang beredar ada di Indonesia memang sangat beragam, dari yang puluhan sampai ratusan ribu. Namun untuk keperluan ilustrasi akan kita ambil harga “tengah” nya saja. Katakan 75 ribu untuk 1 kaleng ukuran 450 gram.
Dengan asumsi kebutuhan konsumsi untuk satu bulan adalah 4 kaleng, maka biaya yang harus dikeluarkan adalah 75 ribu x 4 kaleng = 300 ribu.
Bandingkan dengan susu UHT yang harga satu dus dengan isi 40 kotak yang sekitar 80 ribu. Dengan asumsi jumlah konsumsi susu anak 2 kotak per hari, maka dalam sebulan orang tua hanya butuh mengeluarkan 160 ribu rupiah. Itupun masih menyisakan 20 kotak lagi.
Dengan kemasan yang terpisah dalam jumlah kecil, mudah bagi orang tua untuk mengontrol konsumsi susu anak.  Misal di pagi hari orang tua bisa mengambil 2 kotak, dan menunjukkan kepada anak, bahwa ia hanya boleh mengkonsumsi 2 kotak tersebut. Dengan wujud fisik kotak, lebih mudah bagi orang tua untuk mengkomunikasikan ke anak jatah konsumsi susunya.
Bayangkan berapa besarnya penghematan yang bisa dilakukan oleh orang tua bila beralih dari susu formula ke UHT.

Dilihat dari sisi manapun konsumsi susu UHT masih jauh lebih baik dibandingkan dengan susu formula. Masih mau minum sufor ??

10 komentar:

  1. Tapi min, susu formula biasanaya diperkaya zat zat yang dipercaya bisa bikin otak anak "WOW" (AA, DHA misalnya) yang mungkin ga ada di susu UHT...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. zat zat itu ada dalam bahan makanan sehari-hari kok. Itu kan bisa2nya produsen sufor ajah... jangan mau di boongin ah..

      Hapus
  2. Salam hormat Admin,
    ini ni yang sekarang jadi perdebatan dengan istriku. Dari awal istri bersikeras kelak akan memberikan susu UHT, tetapi saya ragu karena ini masih hal yang baru dan belum nampak jelas anak yg diberi susu UHT perkembangannya setelah dewasa bagaimana. Jujur saja hal yang membuatku khawatir adalah masalah kandungan gula yg terlalu berlebih, krn saya sendiri berkali-kali mencoba dan ternyata manis banget sampai tenggorokanku agak serak (tp entah utk merk yg lain), selain itu jg ttg masa kadaluarsa, apakah akurat? takut tdk sesuai krn pengaruh suhu dan perlakuan yg lain. Dan seandainya nanti saya sudah yakin atas berbagai refernsi yg kuat kira2 merk UHT apa yg lazim diberikan? Terimaksih atas jawabannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih commentnya.
      Pertanyaan mendasar sebenarnya adalah apakah memang perlu memberikan susu, baik itu UHT maupun formula untuk anak?
      Karena sebenarnya kebutuhan nutrisi untuk anak sudah bisa dipenuhi dari makanan sehari2nya. Selama makanan tersebut diolah dengan baik.
      Saya sendiri menggolongkan susu UHT sebagai kuliner rekreasional. Hanya diberikan sesekali jika "sedang kepingin".
      Untuk kebutuhan nutrisi sehari2 anak saya memfokuskan dengan memberikan makanan sehari2 yang bergizi. Sayur, buah, protein, dll
      Kalo untuk merk saya tidak bisa rekomen apa yang terbaik..

      Hapus
    2. setau saya sekarang banyak tuh susu UHT full cream yang tanpa rasa (plain) dan baik dikonsumsi oleh anak-anak di atas 12 bulan, karena tidak mengandung gula/pemanis tambahan

      Hapus
    3. Iya betul.. anak2 juga suka.. terimakasih infonya..

      Hapus
    4. susu UHT yg plain betul tidak mengandung gula, tapi mengandung garam dan minyak nabati

      Hapus
  3. Min, brarti tanpa susupun anak sudah tercukupi gizinya melalui makanan yg diolah scr benar ya.???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak betul bangetsss.. susu itu ga harus kok..

      Hapus
  4. perlukah susu uht direbus lg sblm dikonsumsi utk anak 1,5 th?

    BalasHapus